Enam Tokoh Penghimpun Hadith – Bagian 6 Imam Ibn Majah

Imam-Ibn-Majah

6. Imam Ibn Majah

Ibn  Majah  adalah  seorang  kepercayaan  yang  besar,  yang  disepakati  tentang kejujurannya,  dapat dijadikan  argumentasi pendapat-pendapatnya.  Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadith.

Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qarwini, pengarang kitab As-Sunan dan kitab-kitab bemanfaat lainnya. Kata “Majah” dalam nama beliau adalah dengan huruf “ha” yang dibaca sukun; inilah pendapat yang shahih yang dipakai oleh mayoritas ulama, bukan dengan “ta” (majat) sebagaimana  pendapat sementara orang. Kata itu adalah gelar ayah Muhammad,  bukan gelar kakeknya, seperti diterangkan penulis Qamus jilid 9, hal. 208. Ibn Katsr dalam Al-Bidayah wan- Nibayah, jilid 11, hal. 52.

Imam Ibn Majah dilahirkan di Qaswin pada tahun 209 H, dan wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Jenazahnya dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Sedangkan pemakamannya  dilakukan  oleh kedua saudaranya,  Abu Bakar dan Abdullah serta putranya, Abdullah.

♦ Pengembaraannya

Ia berkembang dan meningkat dewasa sebagai orang yang cinta mempelajari ilmu dan   pengetahuan,   teristimewa   mengenai  hadith dan   periwayatannya.   Untuk mencapai usahanya dalam mencari dan mengumpulkan hadith, ia telah melakukan lawatan dan berkeliling di beberapa negeri. Ia melawat ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kufah,  Basrah  dan  negara-negara  serta  kota-kota  lainnya, untuk  menemui  dan berguru  hadith  kepada  ulama-ulama  hadith.  Juga ia belajar  kepada  murid-murid Malik dan al-Lais, rahimahullah, sehingga ia menjadi salah seorang imam terkemuka pada masanya di dalam bidang ilmu nabawi yang mulia ini.

♦ Aktivitas Periwayatannya

Ia belajar dan meriwayatkan hadith dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah  bin Numair,  Hisyam bin ‘Ammar, Muhammad  bin Ramh, Ahmad bin al- Azhar, Bisyr bin Adan dan ulama-ulama besar lain.

Sedangkan hadith-hadithnya diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Isa al-Abhari, Abul Hasan al-Qattan, Sulaiman bin Yazid al-Qazwini, Ibn Sibawaih, Ishak bin Muhammad dan ulama-ulama lainnya.

♦ Penghargaan Para Ulama Kepadanya

Abu Ya’la al-Khalili al-Qazwini berkata: “Ibn Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat- pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadith.”

Zahabi dalam Tazkiratul Huffaz, melukiskannya sebagai seorang ahli hadith besarm mufasir, pengarang kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadith kenamaan negerinya.

Ibn  Kasir,  seorang  ahli  hadith  dan  kritikus  hadith  berkata  dalam  Bidayah-nya: “Muhammad  bin Yazid (Ibn Majah) adalah pengarang kitab sunan yang masyhur.

Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadith dan usul dan furu’.”

♦ Karya-karyanya

Imam Ibn Majah mempunyai banyak karya tulis, di antaranya:

  • Kitab As-Sunan, yang merupakan salah satu Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadith yang Pokok).
  • Kitab  Tafsir  Al-Qur’an,  sebuah  kitab  tafsir  yang  besar  manfatnya   seperti diterangkan Ibn Kasir.
  • Kitab Tarikh, berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibn Majah.

♦ Sekilas Tentang Sunan Ibn Majah

Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Ibn Majah terbesar yang masih beredar hingga sekarang. Dengan kitab inilah, nama Ibn Majah menjadi terkenal.

Ia menyusun sunan ini menjadi beberapa kitab dan beberapa bab. Sunan ini terdiri dari 32 kitab, 1.500 bab. Sedan jumlah hadithnya sebanyak 4.000 buah hadith.

Kitab sunan ini disusun menurut sistematika fiqh, yang dikerjakan secara baik dan indah.  Ibn Majah  memulai  sunan-nya  ini dengan sebuah  bab  tentang  mengikuti sunnah   Rasulullah   SAW.  Dalam   bab  ini  ia  menguraikan   hadith-hadith   yang menunjukkan kekuatan sunnah, kewajiban mengikuti dan mengamalkannya.

♦ Kedudukan Sunan Ibn Majah di antara Kitab-kitab Hadith

Sebahagian ulama tidak memasukkan Sunan Ibn Majah ke dalam kelompok “Kitab Hadith Pokok” mengingat darjat Sunan ini lebih rendah dari kitab-kitab hadith yang lima.

Sebahagian ulama yang lain menetapkan, bahawa kitab-kitab hadith yang pokok ada enam kitab (Al-Kutubus Sittah/Enam Kitab Hadith Pokok), yaitu:

  • Shahih Bukhari, karya Imam Bukhari.
  • Shahih Muslim, karya Imam Muslim.
  • Sunan Abu Dawud, karya Imam Abu Dawud.
  • Sunan Nasa’i, karya Imam Nasa’i.
  • Sunan Tirmidzi, karya Imam Tirmidzi.
  • Sunan Ibn Majah, karya Imam Ibn Majah.

Ulama pertama yang memandang Sunan Ibn Majah sebagai kitab keenam adalah al- Hafiz Abul-Fardl Muhammad bin Tahir al-Maqdisi (wafat pada 507 H) dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan dalam risalahnya Syurutul ‘A’immatis Sittah.

Pendapat  itu  kemudian  diikuti  oleh  al-Hafiz  ‘Abdul  Gani  bin  al-Wahid  al-Maqdisi (wafat  600  H)  dalam  kitabnya  Al-Ikmal  fi Asma’  ar-Rijal.  Selanjutnya  pendapat mereka ini diikuti pula oleh sebahagian besar ulama yang kemudian.

Mereka mendahulukan Sunan Ibn Majah dan memandangnya sebagai kitab keenam, tetapi  tidak  mengkategorikan  kitab  Al-Muwatta’  karya  Imam  Malik  sebagai  kitab keenam, padahal kitab ini lebih shahih daripada Sunan Ibn Majah, hal ini mengingat bahawa Sunan Ibn Majah banyak zawa’idnya (tambahannya) atas Kutubul Khamsah. Berbeda dengan Al-Muwatta’, yang hadith-hadith itu kecuali sedikit sekali, hampir seluruhnya telah termuat dalam Kutubul Khamsah.

Di antara para ulama ada yang menjadikan  Al-Muwatta’  susunan Imam Malik ini sebagai  salah satu Usul us-Sittah  (Enam Kitab Pokok), bukan Sunan Ibn Majah. Ulama pertama yang berpendapat demikian adalah Abul Hasan Ahmad bin Razin al- Abdari as-Sarqisti  (wafat sekitar tahun 535 H) dalam kitabnya  At-Tajrid  fil Jam’i Bainas-Sihah. Pendapat ini diikuti oleh Abus Sa’adat Majduddin Ibnul Asir al-Jazairi asy-Syafi’i (wafat 606 H). Demikian pula az-Zabidi asy-Syafi’i (wafat 944 H) dalam kitabnya Taysirul Wusul.

♦ Nilai Hadith-hadith Sunan Ibn Majah

Sunan Ibn Majah memuat hadith-hadith shahih, hasan, dan da’if (lemah), bahkan hadith-hadith munkar dan maudhu’ meskipun dalam jumlah sedikit.

Martabat Sunan Ibn Majah ini berada di bawah martabat Kutubul Khamsah (Lima Kitab Pokok). Hal ini kerana kitab sunan ini yang paling banyaknya hadith-hadith da’if di dalamnya.

Oleh kerana itu tidak sayugianya kita menjadikan hadith-hadith yang dinilai lemah atau palsu dalam Sunan Ibn Majah ini sebagai dalil. Kecuali setelah mengkaji dan meneliti  terlebih  dahulu  mengenai  keadaan  hadith-hadith  tersebut.  Bila  ternyata hadith dimaksud itu shahih atau hasan, maka ia boleh dijadikan pegangan. Jika tidak demikian adanya, maka hadith tersebut tidak boleh dijadikan dalil.

♦ Sulasiyyat Ibn Majah

Ibn Majah telah meriwayatkan beberapa buah hadith dengan sanad tinggi (sedikit sanadnya),  sehingga  antara  dia  dengan  Nabi SAW  hanya  terdapat  tiga  perawi. Hadith semacam inilah yang dikenal dengan sebutan Sulasiyyat.

Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Abu Syuhbah.