Enam Tokoh Penghimpun Hadith – Bagian 4 Imam Tirmidzi

Imam-Tirmidzi

4. Imam Tirmidzi

Setelah  Imam  Bukhari,  Imam  Muslim  dan  Imam  Abu  Dawud,  kini  giliran  Imam Tirmidzi, juga merupakan tokoh ahli hadith dan penghimpun hadith yang terkenal.

Karyanya yang masyhur yaitu Kitab Al-Jami’ (Jami’ At-Tirmidzi). Ia juga tergolonga salah satu “Kutubus  Sittah”  (Enam  Kitab Pokok  Bidang  Hadith)  dan ensiklopedia hadith terkenal.

Imam al-Hafiz Abu ‘Isa Muhammad  bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak at-Tirmidzi,  salah  seorang  ahli  hadith  kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang masyhur lahir pada 279 H di kota Tirmiz.

♦ Perkembangan dan Lawatannya

Kakek Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkebangsaan Mirwaz, kemudian pindah ke Tirmiz dan menetap di sana. Di kota inilah cucunya bernama Abu ‘Isa dilahirkan.  Semenjak kecilnya  Abu  ‘Isa  sudah  gemar  mempelajari  ilmu  dan  mencari  hadith.  Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Iraq, Khurasan dan lain- lain. Dalam perlawatannya itu ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru- guru hadith untuk mendengar hadith yang kem dihafal dan dicatatnya dengan baik di perjalanan  atau  ketika  tiba  di suatu  tempat.  Ia  tidak  pernah  menyia-nyiakan kesempatan  tanpa  menggunakannya  dengan  seorang  guru  di perjalanan  menuju Makkah. Kisah ini akan diuraikan lebih lanjut.

Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang, ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah akhirnya at-Tirmidzi meninggaol dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.

♦ Guru-gurunya

Ia  belajar  dan  meriwayatkan  hadith  dari  ulama-ulama  kenamaan.  Di  antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya ia mempelajari hadith dan fiqh. Juga ia belajar kepada  Imam  Muslim  dan Abu Dawud.  Bahkan  Tirmidzi  belajar  pula hadith  dari sebahagian guru mereka.

Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin ‘Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar, ‘Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain.

♦  Murid-muridnya

Hadith-hadith dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya  ialah  Makhul  ibnul-Fadl,  Muhammad binMahmud  ‘Anbar,  Hammad  bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin  Yusuf an-Nasafi,   Abul-‘Abbas   Muhammad   bin   Mahbud   al-Mahbubi,   yang meriwayatkan kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain.

♦ Kekuatan Hafalannya

Abu ‘Isa at-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadith, kesalehan dan ketaqwaannya. Ia terkenal pula sebagai seorang yang dapat dipercayai, amanah dan sangat teliti. Salah satu bukti kekuatan dan cepat hafalannya  ialah kisah berikut yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Tahzib at-Tahzib-nya, dari Ahmad bin ‘Abdullah bin Abu Dawud, yang berkata: “Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata: Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid berisi hadith-hadith yang berasal  dari  seorang  guru.  Guru  tersebut  berpapasan  dengan  kami.  Lalu  saya bertanya-tanya mengenai  dia,  mereka  menjawab  bahawa  dialah  orang  yang  ku maksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahawa “dua jilid kitab” itu ada padaku. Ternyata yang ku bawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid  lain  yang  mirip dengannya.  Ketika  saya  telah  bertemu  dengan  dia,  saya memohon kepadanya  untuk mendengar  hadith, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadith yang dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahawa kertas yang ku pegang masih putih bersih tanpa  ada  tulisan  sesuatu  apa  pun.

Demi  melihat  kenyataan  ini,  ia  berkata: ‘Tidakkah engkau malu kepadaku?’ Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahawa apa yang ia bacakan itu telah ku hafal semuanya. ‘Cuba bacakan!’ suruhnya. Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak,’ jawabku. Kemudian saya meminta   lagi   agar dia   meriwayatkan   hadith   yang   lain.   Ia   pun   kemudian membacakan empat puluh buah hadith yang tergolong hadith-hadith yang sulit atau garib,   lalu   berkata:   ‘Coba ulangi   apa   yang   ku   bacakan   tadi,’   Lalu   aku membacakannya  dari  pertama  sampai selesai;  dan  ia  berkomentar:  ‘Aku  belum pernah melihat orang seperti engkau.”

♦  Pandangan Para Kritikus Hadith Terhadapnya

Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan  keilmuannya.  Al-Hafiz  Abu  Hatim Muhammad  ibn  Hibban,  kritikus  hadith, menggolangkan Tirmidzi ke dalam kelompok “Tsiqah” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kukuh hafalannya, dan berkata: “Tirmidzi adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadith, menyusun kitab, menghafal hadith dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama.”

Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadith menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadith yang baik yang telah diakui oleh  para  ulama.  Ia  memiliki  kitab  Sunan  dan  kitab  Al-Jarh  wat-Ta’dil.  Hadith- hadithnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang  berilmu  luas.  Kitabnya  Al-Jami’us  Shahih  sebagai  bukti  atas  keagungan darjatnya,  keluasan hafalannya,  banyak  bacaannya  dan pengetahuannya  tentang hadith yang sangat mendalam.

♦ Fiqh Tirmidzi dan Ijtihadnya

Imam  Tirmidzi,  di  samping  dikenal  sebagai  ahli  dan  penghafal  hadith  yang mengetahui  kelemahan-kelemahan  dan perawi-perawinya,  ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili wawasan dan pandangan  luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap   berbagai   mazhab   fikih.   Kajian-kajiannya   mengenai   persoalan   fiqh mencerminkan  dirinya  sebagai  ulama  yang  sangat  berpengalaman  dan  mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya.

Salah satu contoh ialah penjelasannya terhadap sebuah hadith mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut: “Muhammad   bin   Basysyar   bin   Mahdi   menceritakan   kepada   kami   Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi az-Zunad, dari al-A’rai dari Abu Hurairah, dari Nabi  SAW,  bersabda:  ‘Penangguhan  membayar  hutang  yang  dilakukan  oleh  si berhutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan  hutangnya  kepada  orang  lain  yang  mampu  membayar,  hendaklah pemindahan hutang itu diterimanya.” Imam Tirmidzi memberikan penjelasan sebagai berikut: Sebahagian ahli ilmu berkata: “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal)  tidak  dibolehkan  menuntut  kepada  muhil.” Diktum  ini adalah  pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.

Sebahagian ahli ilmu yang lain berkata: “Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).”

Mereka memakai ala an dengan perkataan Usma dan lainnya, yang menegaskan: “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim.”

Menurut  Ishak,  maka  perkataan  “Tidak  ada  kerugian  atas  harta  benda  seorang Muslim” ini adalah “Apabila seseorang dipindahkan  piutangnya  kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu.”

Itulah   salah   satu   contoh   yang   menunjukkan   kepada   kita,   bahawa   betapa cemerlangnya  pemikiran  fiqh  Tirmidzi  dalam memahami  nas-nas  hadith,  serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.

♦ Karya-karyanya

Imam Tirmidzi banyak menulis kitab-kitab. Di antaranya:

  • Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi.
  • Kitab Al-‘Ilal.
  • Kitab At-Tarikh.
  • Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah.
  • Kitab Az-Zuhd.
  • Kitab Al-Asma’ wal-kuna.

Di antara kitab-kitab  tersebut yang paling besar dan terkenal serta beredar luas adalah Al-Jami’.

♦ Sekilas tentang Al-Jami’

Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Tirmidzi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia tergolonga salah satu “Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadith) dan ensiklopedia hadith terkenal. Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmidzi, dinisbatkan  kepada penulisnya,  yang juga terkenal dengan nama Sunan Tirmidzi. Namun nama pertamalah yang popular.

Sebahagian ulama tidak berkeberatan menyandangkan gelar as-Shahih kepadanya, sehingga mereka menamakannya  dengan Shahih Tirmidzi. Sebenarnya pemberian nama ini tidak tepat dan terlalu gegabah.

Setelah selesai menyususn kitab ini, Tirmidzi memperlihatkan kitabnya kepada para ulama  dan  mereka  senang  dan  menerimanya  dengan  baik.  Ia  menerangkan: “Setelah selesai menyusun kitab ini, aku perlihatkan kitab tersebut kepada ulama- ulama Hijaz, Irak dan Khurasa, dan mereka semuanya meridhainya, seolah-olah di rumah tersebut ada Nabi yang selalu berbicara.”

Imam  Tirmidzi  di  dalam  Al-Jami’-nya  tidak  hanya  meriwayatkan  hadith  shahih semata,  tetapi  juga  meriwayatkan  hadith-hadith  hasan,  da’if,  garib  dan  mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.

Dalam pada itu, ia tidak meriwayatkan  dalam kitabnya itu, kecuali hadith-hadith yang  diamalkan  atau  dijadikan  pegangan  oleh  ahli fiqh.  Metode  demikian  ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh kerananya, ia meriwayatkan semua hadith yang memiliki nilai demikian, baik jalan periwayatannya itu shahih ataupun tidak  shahih.  Hanya  saja  ia  selalu  memberikan  penjelasan  yang sesuai  dengan keadaan setiap hadith.

Diriwayatkan, bahawa ia pernah berkata: “Semua hadith yang terdapat dalam kitab ini  adalah   dapat   diamalkan.”   Oleh   kerana   itu,  sebahagian   besar   ahli   ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua buah hadith, yaitu: “Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab “takut” dan “dalam perjalanan.” “Jika ia peminum khamar – minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.” Hadith  ini  adalah  mansukh  dan  ijma  ulama  menunjukan  demikian.  Sedangkan mengenai shalat jamak dalam hadith di atas, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebahagian besar ulama berpendapat boleh (jawaz)  hukumnya   melakukan   salat  jamak  di  rumah  selama  tidak  dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebahagian besar ahli fiqh dan ahli hadith juga Ibn Munzir.

Hadith-hadith da’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut fadha’il al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan  kebajikan). Hal itu dapat dimengerti kerana persyaratan-persyaratan  bagi (meriwayatkan  dan mengamalkan) hadith semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadith-hadith tentang halal dan haram.

Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Abu Syuhbah.