Enam Tokoh Penghimpun Hadith – Bagian 3 Imam Abu Dawud

Imam-Abu-Dawud

3. Imam Abu Dawud

Setelah Imam Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh kenamaan ahli hadith pada zamannya. Kealiman, kesalihan dan kemuliaannya semerbak mewangi hingga kini.

Abu Dawud nama lengkapnya ialah Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin ‘Amr al-Azdi as-Sijistani,  seorang imam ahli hadith yang sangat teliti, tokoh terkemuka para ahli hadith setelah dua imam hadith Bukhari dan Muslim serta pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan.

♦ Perkembangan dan Perlawatannya

Sejak kecilnya Abu Dawud sudah mencintai ilmu dan para ulama, bergaul dengan mereka  untuk  dapat  mereguk  dan  menimba ilmunya.  Belum  lagi  mencapai  usia dewasa, ia telah mempersiapkan dirinya untuk mengadakan perlawatan, mengelilingi berbagai negeri. Ia belajar hadith dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya, yang dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri- negeri lain. Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia untuk memperoleh pengetahuan  luas  tentang  hadith,  kemudian  hadith-hadith  yang  diperolehnya  itu disaring dan hasil penyaringannya  dituangkan  dalam kitab As-Sunan. Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di sana ia mengajarkan hadith dan fiqh kepada para penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya.  Kitab Sunan karyanya itu diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadith, Ahmad bin Hanbal.

Dengan bangga Imam Ahmad memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik. Kemudian Abu Dawud menetap di Basrah atas permintaan gubernur setempat yang menghendaki  supaya  Basrah  menjadi  “Ka’bah”  bagi  para  ilmuwan  dan  peminat hadith.

♦ Guru-gurunya

Para ulama yang menjadi guru Imam Abu Dawud banyak jumlahnya. Di antaranya guru-guru yang paling terkemuka ialah Ahmad bin Hanbal, al-Qa’nabi, Abu ‘Amr ad- Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja’, Abu’l Walid at-Tayalisi dan lain-lain. Sebahagian gurunya ada pula yang menjadi guru Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti Ahmad bin Hanbal, Usman bin Abi Syaibah dan Qutaibah bin Sa’id.

♦ Murid-muridnya (Para Ulama yang Mewarisi Hadithnya)

Ulama-ulama yang mewarisi hadithnya dan mengambil ilmunya, antara lain Abu ‘Isa at-Tirmidzi,  Abu  Abdur  Rahman  an-Nasa’i, putranya  sendiri  Abu  Bakar  bin  Abu Dawud, Abu Awanah, Abu Sa’id al-A’rabi, Abu Ali al-Lu’lu’i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin Sa’id al-Jaldawi dan lain-lain.

Cukuplah  sebagai  bukti pentingnya  Abu Dawud,  bahawa  salah  seorang  gurunya, Ahmad bin Hanbal pernah meriwayatkan dan menulis sebuah hadith yang diterima dari padanya. Hadith tersebut ialah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Hammad bin Salamah dari Abu Ma’syar ad-Darami, dari ayahnya, sebagai berikut: “Rasulullah SAW. ditanya tentang ‘atirah, maka ia menilainya baik.”

♦ Akhlak dan Sifat-sifatnya yang Terpuji

Abu Dawud adalah salah seorang ulama yang mengamalkan ilmunya dan mencapai darjat tinggi dalam ibadah, kesucian diri, wara’ dan kesalehannya. Ia adalah seorang sosok  manusia   utama   yang  patut  diteladani   perilaku,   ketenangan   jiwa  dan keperibadiannya. Sifat-sifat Abu Dawud ini telah diungkapkan oleh sebahagian ulama yang menyatakan:

“Abu Dawud menyerupai Ahmad bin Hanbal dalam perilakunya, ketenangan jiwa dan kebagusan   pandangannya   serta  keperibadiannya.   Ahmad  dalam  sifat-sifat   ini menyerupai Waki’, Waki menyerupai Sufyan as-Sauri, Sufyan menyerupai Mansur, Mansur  menyerupai  Ibrahim  an-Nakha’i,  Ibrahim  menyerupai  ‘Alqamah  dan  ia menyerupai Ibn Mas’ud. Sedangkan Ibn Mas’ud sendiri menyerupai Nabi SAW dalam sifat-sifat tersebut.”

Sifat  dan  keperibadian  yang  mulia  seperti  ini  menunjukkan  atas  kesempurnaan keberagamaan, tingkah laku dan akhlak.

Abu  Dawud  mempunyai  pandangan  dan  falsafah  sendiri  dalam  cara  berpakaian. Salah  satu  lengan  bajunya  lebar  namun  yang satunya  lebih  kecil  dan  sempit. Seseorang yang melihatnya bertanya tentang kenyentrikan ini, ia menjawab: “Lengan baju yang lebar ini digunakan untuk membawa kitab-kitab, sedang yang satunya lagi tidak diperlukan. Jadi, kalau dibuat lebar, hanyalah berlebih-lebihan.

♦ Pujian Para Ulama Kepadanya

Abu  Dawud  adalah  juga  merupakan  “bendera  Islam”  dan  seorang  hafiz  yang sempurna, ahli fiqh dan berpengetahuan  luas terhadap hadith dan ilat-ilatnya.  Ia memperoleh  penghargaan  dan  pujian  dari  para  ulama,  terutama  dari  gurunya sendiri, Ahmad bin Hanbal. Al-Hafiz Musa bin Harun berkata mengenai Abu Dawud:

“Abu Dawud diciptakan di dunia hanya untuk hadith, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak melihat orang yang lebih utama melebihi dia.”

Sahal  bin Abdullah  At-Tistari,  seorang  yang  alim  mengunjungi  Abu  Dawud.  Lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah Sahal, datang berkunjung kepada tuan.” Abu  Dawud  pun  menyambutnya   dengan  hormat  dan  mempersilahkan   duduk. Kemudian  Sahal berkata:  “Wahai  Abu Dawud,  saya ada keperluan  keadamu.”  Ia bertanya: “Keperluan apa?” “Ya, akan saya utarakan nanti, asalkan engkau berjanji akan memenuhinya  sedapat  mungkin,”  jawab Sahal. “Ya, aku penuhi maksudmu selama aku mampu,” tandan Abu Dawud. Lalu Sahal berkata: “Jujurkanlah lidahmu yang engkau pergunakan untuk meriwayatkan hadith dari Rasulullah SAW. sehingga aku dapat menciumnya.” Abu Dawud pun lalu menjulurkan lidahnya yang kemudian dicium oleh Sahal.

Ketika Abu Dawud  menyusun  kitab Sunan, Ibrahim  al-Harbi,  seorang  ulama ahli hadith  berkata:  “Hadith  telah  dilunakkan  bagi Abu  Dawud,  sebagaimana  besi dilunakkan   bagi  Nabi  Dawud.”   Ungkapan   ini  adalah   kata-kata   simbolik   dan perumpamaan yang  menunjukkan  atas keutamaan  dan keunggulan  seseorang  di bidang penyusunan hadith. Ia telah mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang masih rumit dan pelik.

Abu Bakar  al-Khallal,  ahli hadith  dan  fiqh terkemuka  yang  bermadzhab  Hanbali, menggambarkan  Abu Dawud sebagai berikut; Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as, imam  terkemuka  pada  zamannya  adalah  seorang  tokoh  yang  telah  menggali beberapa bidang ilmu dan mengetahui tempat-tempatnya,  dan tiada seorang pun pada masanya yang dapat mendahului atau menandinginya. Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin Sadaqah senantiasa menyinggung-nyingung  Abu Dawud kerana ketinggian  darjatnya,  dan selalu  menyebut-nyebutnya  dengan  pujian  yang  tidak pernah mereka berikan kepada siapa pun pada masanya.

♦ Madzhab Fiqh Abu Dawud

Syaikh  Abu  Ishaq  asy-Syairazi  dalam  asy-Syairazi  dalam  Tabaqatul-Fuqaha-nya menggolongkan   Abu  Dawud  ke  dalam kelompok   murid-murid   Imam  Ahmad. Demikian juga Qadi Abu’l-Husain Muhammad bin al-Qadi Abu Ya’la (wafat 526 H) dalam Tabaqatul-Hanabilah-nya.  Penilaian  ini  nampaknya  disebabkan  oleh  Imam Ahmad  merupakan  gurunya  yang  istimewa.  Menurut satu  pendapat,  Abu  Dawud adalah bermadzhab Syafi’i.

Menurut pendapat yang lain, ia adalah seorang mujtahid sebagaimana dapat dilihat pada gaya susunan dan sistematika Sunan-nya. Terlebih lagi bahawa kemampuan berijtihad merupakan salah satu sifat khas para imam hadith pada masa-masa awal.

♦ Memandang Tinggi Kedudukan Ilmu dan Ulama

Sikap Abu Dawud yang memandang tinggi terhadap kedudukan ilmu dan ulama ini dapat dilihat pada kisah berikut sebagaimana dituturkan,  dengan sanad lengkap, oleh Imam al-Khattabi, dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud. Ia berkata: “Aku bersama Abu Dawud tinggi di Baghdad. Pada suatu waktu, ketika kami selesai menunaikan shalat Maghrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang, lalu pintu aku buka dan seorang pelayan melaporkan bahawa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq mohon ijin untuk masuk. Kemudian aku melapor kepada Abu Dawud tentang tamu ini, dan ia pun mengijinkan. Sang Amir pun masuk, lalu duduk. Tak lama kemudian Abu Dawud menemuinya seraya berkata: “Gerangan apakah yang membawamu datang ke sini pada saat seperti ini?”

“Tiga kepentingan,” jawab Amir. “Kepentingan apa?” tanyanya.

Amir menjelaskan,  “Hendaknya  tuan berpindah  ke Basrah  dan menetap  di sana, supaya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia datang belajar kepada tuan; dengan demikian Basrah akan makmur kembali. Ini mengingat bahawa Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedy Zenji.”

Abu Dawud berkata: “Itu yang pertama, sebutkan yang kedua!”

“Hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra-putraku,” kata Amir.

“Ya, ketiga?” Tanya Abu Dawud kembali.

Amir   menerangkan:   “Hendaknya   tuan   mengadakan   majlis   tersendiri   untuk mengajarkan  hadith kepada putra-putra khalifah, sebab mereka tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum.”

Abu Dawud menjawab: “Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi; sebab manusia itu baik pejabat terhormat maupun rakyat melarat, dalam bidang ilmu sama.”

Ibn  Jabir  menjelaskan:  “Maka  sejak  itu  putra-putra  khalifah  hadir  dan  duduk bersama  di majlis taklim;  hanya  saja di antara mereka  dengan  orang  umum  di pasang tirai, dengan demikian mereka dapat belajar bersama-sama.”

Maka  hendaknya  para  ulama  tidak  mendatangi  para  raja  dan  penguasa,  tetapi merekalah yang harus datang kepada para ulama. Dan kesamaan darjat dalam ilmu dan pengetahuan ini, hendaklah dikembangkan apa yang telah dilakukan Abu Dawud tersebut.

♦ Tanggal Wafatnya

Setelah  mengalami  kehidupan  penuh  berkat  yang  diisi  dengan  aktivitas  ilmia, menghimpun dan menyebarluaskan hadith, Abu Dawud meninggal dunia di Basrah yang dijadikannya sebagai tempat tinggal atas permintaan Amir sebagaimana telah diceritakan.  Ia  wafat  pada  tanggal  16  Syawwal  275  H/889M.  Semoga  Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepadanya.

♦ Karya-karyanya

Imam Abu Dawud banyak memiliki karya, antara lain:

  • Kitab AS-Sunnan (Sunan Abu Dawud).
  • Kitab Al-Marasil.
  • Kitab Al-Qadar.
  • An-Nasikh wal-Mansukh.
  • Fada’il al-A’mal.
  • Kitab Az-Zuhd.
  • Dala’il an-Nubuwah.
  • Ibtida’ al-Wahyu.
  • Ahbar al-Khawarij.

Di antara karya-karya tersebut yang paling bernilai tinggi dan masih tetap beredar adalah kitab Amerika Serikat-Sunnan, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Abi Dawud.

♦ Kitab Sunan Karya Abu Dawud

Metode Abu Dawud dalam Penyusunan Sunan-nya

Karya-karya di bidang hadith, kitab-kitab Jami’ Musnad dan sebagainya disamping berisi  hadith-hadith  hukum,  juga  memuat  hadith-hadith  yang  berkenaan  dengan amal-amal yang terpuji (fada’il a’mal) kisah-kisah, nasehat-nasehat (mawa’iz), adab dan tafsir. Cara demikian tetap berlangsung sampai datang Abu Dawud. Maka Abu Dawud  menyusun  kitabnya,  khusus  hanya  memuat  hadith-hadith  hukum  dan sunnah-sunnah  yang  menyangkut  hukum.  Ketika  selesai  menyusun  kitabnya  itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal, dan Ibn Hanbal memujinya sebagai kitab yang indah dan baik.

Abu  Dawud  dalam  sunannya  tidak  hanya  mencantumkan  hadith-hadith  shahih semata sebagaimana yang telah dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi ia memasukkan  pula kedalamnya hadith shahih, hadith hasan, hadith dha’if yang tidak  terlalu  lemah  dan  hadith  yang  tidak  disepakati  oleh  para  imam  untuk ditinggalkannya. Hadith-hadith yang sangat lemah, ia jelaskan kelemahannya.

Cara  yang  ditempuh  dalam  kitabnya  itu  dapat  diketahui  dari  suratnya  yang  ia kirimkan kepada penduduk Makkah sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan mereka mengenai kitab Sunannya. Abu Dawud menulis sbb:

“Aku mendengar dan menulis hadith Rasulullah SAW sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu, aku seleksi sebanyak 4.800 hadith yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut aku himpun hadith-hadith shahih, semi shahih dan yang mendekati shahih. Dalam kitab itu aku tidak mencantumkan sebuah hadith pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Segala hadith yang mengandung  kelemahan  yang sangat ku jelaskan, sebagai hadith macam ini ada hadith yang tidak shahih sanadnya. Adapun hadith yang tidak kami beri penjelasan sedikit  pun,  maka  hadith  tersebut  bernilai  salih  (bias  dipakai  alasan,  dalil),  dan sebahagian dari hadith yang shahih ini ada yang lebih shahih daripada yang lain. Kami tidak mengetahui sebuah kitab, sesudah Qur’an, yang harus dipelajari selain daripada  kitab  ini.  Empat  buah  hadith  saja  dari  kitab  ini  sudah  cukup  menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang. Hadith tersebut adalah, yang artinya:

Pertama: “Segala amal itu hanyalah menurut niatnya, dan tiap-tiap or memperoleh apa yang  ia niatkan.  Kerana  itu maka  barang siapa  berhijrah  kepada  Allah  dan Rasul-Nya, niscaya hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya pula. Dan barang siapa hijrahnya kerana  untuk  mendapatkan  dunia  atau  kerana  perempuan  yang  ingin dikawininya, maka hijrahnya hanyalah kepada apa yang dia hijrah kepadanya itu.”

Kedua:  “Termasuk  kebaikan  Islam seseorang  ialah meninggalkan  apa yang tidak berguna baginya.”

Ketiga: “Tidaklah seseorang beriman menjadi mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang ia rela untuk dirinya.”

Keempat:  “Yang halal itu sudah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (atau samar) yang tidak diketahui oleh banyak  orang.  Barang  siapa  menghindari  syubhat,  maka  ia telah  membersihkan agama dan kehormatan dirinya; dan barang siapa terjerumus  ke dalam syubhat, maka  ia telah  terjerumus  ke dalam  perbuatan  haram,  ibarat  penggembala yang menggembalakan  ternaknya di dekat tempat terlarang. Ketahuilah,  sesungguhnya setiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah, sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah, di dalam rumah ini terdapat sepotong daging, jika ia baik, maka baik pulalah semua tubuh dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu hati.”

Demikianlah penegasan Abu Dawud dalam suratnya. Perkataan Abu Dawud itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hadith pertama adalah ajaran tentang niat dan keikhlasan  yang merupakan  asas utama bagi semua amal perbuatan diniah dan duniawiah.

Hadith  kedua  merupakan  tuntunan  dan dorongan  bagi ummat  Islam  agar selalu melakukan setiap yang bermanfaat bagi agama dan dunia.

Hadith ketiga, mengatur tentang hak-hak keluarga dan tetangga, berlaku baik dalam pergaulan dengan orang lain, meninggalkan sifat-sifat egoistis, dan membuang sifat iri, dengki dan benci, dari hati masing-masing.

Hadith keempat merupakan  dasar utama bagi pengetahuan  tentang halal haram, serta cara memperoleh atau mencapai sifat wara’, yaitu dengan cara menjauhi hal- hal musykil  yang  samar  dan masih  dipertentangkan  status  hukumnya  oleh para ulama, kerana untuk menganggap enteng melakukan haram.

Dengan hadith ini nyatalah bahawa keempat hadith di atas, secara umum, telah cukup untuk membawa dan menciptakan kebahagiaan.

♦ Komentar Para Ulama Mengenai Kedudukan Kitab Sunan Abu Dawud

Tidak sedikit ulama yang memuji kitab Sunan ini. Hujatul Islam, Imam Abu Hamid al-Ghazali  berkata:  “Sunan  Abu  Dawud  sudah cukup  bagi  para  mujtahid  untuk mengetahui hadith-hadith ahkam.” Demikian juga dua imam besar, An-Nawawi dan Ibnul  Qayyim Al-Jauziyyah  memberikan  pujian  terhadap  kitab  Sunan  ini  bahkan beliau menjadikan kitab ini sebagai pegangan utama di dalam pengambilan hukum.

♦ Hadithhadith Sunan Abu Dawud yang Dikritik

Imam Al-Hafiz Ibnul Jauzi telah mengkritik beberapa hadith yang dicantumkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya  dan memandangnya  sebagai hadith-hadith  maudhu’ (palsu).  Jumlah  hadith  tersebut  sebanyak  9  buah  hadith.  Walaupun  demikian, disamping  Ibnul  Jauzi  itu  dikenal  sebagai  ulama  yang  terlalu  mudah  memvonis “palsu”, namun kritik-kritik telah ditanggapi dan sekaligus dibantah oleh sebahagian ahli hadith, seperti Jalaluddin as-Suyuti. Dan andaikata kita menerima kritik yang dilontarkan Ibnul Jauzi tersebut, maka sebenarnya hadith-hadith yang dikritiknya itu sedikit sekali jumlahnya, dan hampir tidak ada pengaruhnya terhadap ribuan hadith yang terkandung di dalam kitab Sunan tersebut. Kerana itu kami melihat bahawa hadith-hadith  yang dikritik tersebut tidak mengurangi  sedikit pun juga nilai kitab Sunan sebagai referensi utama yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahanya.

♦ Jumlah Hadith Sunan Abu Dawud

Di atas telah disebutkan bahawa isi Sunan Abu Dawud itu memuat hadith sebanyak 4.800 buah hadith. Namun sebahagian ulama ada yang menghitungnya  sebanyak 5.274 buah hadith. Perbedaan jumlah ini disebabkan bahawa sebahagian orang yang menghitungnya memandang sebuah hadith yang diulang-ulang sebagai satu hadith, namun  yang  lain  menganggapnya   sebagai  dua  hadith  atau  lebih.  Dua  jalan periwayatan hadith atau lebih ini telah dikenal di kalangan ahli hadith.

Abu Dawud membagi kitab Sunannya menjadi beberapa kitab, dan tiap-tiap kitab dibagi pula ke dalam beberapa bab. Jumlah kitab sebanyak 35 buah, di antaranya ada 3 kitab yang tidak dibagi ke dalam bab-bab. Sedangkan jumlah bab sebanyak 1,871 buah bab.

Sumber: Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Abu Syuhbah.